Dampak Game Online dan Manajemen Emosi

Dampak Game Online dan Manajemen Emosi – Kasus ini menjadi pengingget nyata tentang pentingnya manajemen emosi, terutama bagi generasi muda yang kerap menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel. Gangguan kecil, seperti suara tangis anak atau teriakan, seharusnya tidak bisa menjadi alasan untuk melakukan kekerasan di luar nalar.

Baca Juga: Sempat Kabur ke Bandung, Owner WO di Jaktim yang Tipu 58 Calon Pengantin Akhirnya Ditangkap

Psikolog dari Universitas Indonesia, yang dihubungi secara terpisah, menekankan bahwa tingkat adiksi game online yang tinggi dapat mengubah fungsi kognitif seseorang, terutama dalam hal pengendalian diri (self-control).

“Jika seseorang sudah dalam kondisi marah karena kalah atau terganggu saat bermain, dan tidak memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik, ledakan amarah bisa terjadi di luar batas wajar, termasuk dalam bentuk kekerasan fisik yang fatal,” ujar psikolog tersebut.


Peringatan untuk Orang Tua dan Keluarga

Kasus ini menjadi tamparan keras bagi kita semua untuk lebih waspada dalam mengawasi interaksi antara anak-anak, terutama balita, dengan remaja atau orang dewasa di sekitarnya, bahkan dengan keluarga dekat sekalipun.

Perilaku kekerasan ekstrem jarang terjadi tanpa pemicu atau riwayat gangguan mental. Keluarga diharapkan peka terhadap tanda-tanda gangguan psikologis pada anggota keluarganya, seperti perubahan perilaku drastis, bicara kasar tanpa sebab, atau kecenderungan melukai diri sendiri.

Jika melihat tanda-tanda tersebut, konsultasi ke psikolog atau psikiater terdekat sangat disarankan sebelum terjadi ledakan emosi yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.


Kesimpulan: Tragedi yang Tidak Seharusnya Terjadi

Kematian balita di tangan paman kandungnya adalah bukti betapa rapuhnya kehidupan seorang anak jika berada di lingkungan yang tidak stabil secara mental. Seorang balita seharusnya mendapatkan kasih sayang dan perlindungan, bukan menjadi sasaran pelampiasan kekesalan.

Tinggalkan komentar