Paspor Diplomatik Anak Sambung Putra Mahkota Norwegia Dicabut Usai Terjerat 23 Kasus Kriminal –

Paspor Diplomatik Anak Sambung Putra Mahkota Norwegia Dicabut Usai Terjerat 23 Kasus Kriminal – Keluarga Kerajaan Norwegia sedang menghadapi skandal terbesar dalam sejarah modern mereka. Marius Borg Høiby (29 tahun), putra sambung Putra Mahkota Haakon sekaligus putra sulung Putri Mahkota Mette-Marit, kehilangan fasilitas paspor diplomatiknya setelah terjerat puluhan kasus kriminal serius .

Baca Juga: Ilmuwan Ungkap Peran Sidik Jari dalam Pecahkan Kasus Kriminal

Paspor diplomatik yang seharusnya hanya digunakan untuk perjalanan dinas kerajaan, selama bertahun-tahun disalahgunakan oleh Marius untuk perjalanan pribadi ke berbagai negara Eropa, termasuk Italia, Cannes, Monako, dan Portugal .

Hak Istimewa yang Disalahgunakan

Meskipun bukan anggota kerajaan aktif dan tidak memiliki tugas resmi, Marius telah memegang paspor diplomatik sejak kecil. Fasilitas ini memberinya sejumlah keistimewaan: dapat melewati pemeriksaan imigrasi dengan prioritas khusus, menerima perlakuan istimewa di berbagai bandara internasional, serta mendapatkan perlindungan konsuler yang lebih baik .

Pangeran Haakon secara terbuka mengonfirmasi bahwa Marius memang memegang paspor tersebut, namun tidak menyebutkan penggunaannya untuk perjalanan pribadi. Praktik ini melanggar pedoman Kementerian Luar Negeri Norwegia yang menyatakan bahwa “paspor diplomatik hanya diperuntukkan untuk perjalanan resmi” .

Menyusul tekanan publik yang semakin besar setelah pemberitaan media, Kementerian Luar Negeri Norwegia mengambil tindakan tegas dengan mencabut paspor diplomatik Marius. Kini, penggunaan paspor diplomatik dibatasi hanya untuk anggota keluarga kerajaan yang aktif, seperti Pangeran Sverre Magnus, Putri Marta, dan Putri Astrid .

23 Kasus Kriminal

Pencabutan paspor ini tidak terjadi tanpa alasan. Marius Borg Høiby saat ini menghadapi 23 pelanggaran hukum serius yang dituduhkan kepadanya. Berdasarkan laporan jaksa, rincian kasus meliputi 

Jenis Pelanggaran Jumlah Kasus
Pemerkosaan 4 kasus
Pelecehan seksual Beberapa kasus
Pengancaman
Pelanggaran perintah penahanan

Catatan: Berbagai sumber menyebutkan jumlah dakwaan bervariasi antara 23 hingga 39 kasus. Jaksa Sturla Henriksbø diperkirakan akan memutuskan dalam beberapa minggu mendatang apakah akan meresmikan seluruh dakwaan tersebut .

Penangkapan pertama Marius terjadi pada Agustus 2024, ketika polisi mendatangi sebuah apartemen mewah di Oslo dan menemukan kondisi yang mengenaskan: lampu gantung hancur, ponsel rusak, dan sebuah pisau tertancap di dinding. Pemilik apartemen yang juga mantan kekasih Marius mengalami luka di kepalanya .

Dari situlah rangkaian kasus demi kasus terus bermunculan seiring pendalaman penyelidikan oleh aparat kepolisian Norwegia .

Reaksi Keluarga Kerajaan

Pencabutan paspor Marius dinilai lebih dari sekadar tindakan administratif. Media setempat memandang keputusan tersebut sebagai sinyal bahwa pihak kerajaan mulai menjaga jarak dari sosok yang terus disorot tajam media sejak penangkapannya .

Putra Mahkota Haakon secara terbuka menyatakan bahwa Marius bukan bagian dari keluarga kerajaan dan, sebagai warga negara Norwegia, memiliki kewajiban serta hak yang sama dengan warga lain .

Pihak istana juga menegaskan tidak akan berkomentar selama proses hukum berjalan. Putra Mahkota dan Putri Mahkota memilih untuk tidak hadir di ruang sidang, menekankan pemisahan yang tegas antara masalah hukum pribadi Marius dengan fungsi formal monarki .

Skandal Terbesar dalam 120 Tahun

Sejarawan dan pakar monarki Norwegia, Trond Noren Isaksen, menyebut kasus ini sebagai “skandal terbesar dalam 120 tahun sejarah monarki Norwegia” .

Publik pun mempertanyakan mengapa Marius diberikan hak istimewa sejak kecil, padahal ia bukan anggota keluarga kerajaan aktif. Seorang sumber yang dekat dengan kasus ini mengatakan bahwa “paspor diplomatik hanya diperuntukkan untuk perjalanan resmi” .

Vonis: Hukuman 7 Tahun 7 Bulan Penjara

Pada 18 Maret 2026, pengadilan Norwegia akhirnya menjatuhkan vonis kepada Marius. Jaksa menuntut hukuman penjara selama 7 tahun 7 bulan. Terdakwa didakwa telah melakukan pelanggaran serius .

Dalam persidangan yang berlangsung selama 6 minggu, lebih dari 200 jurnalis dari dalam dan luar negeri meliput jalannya persidangan. Sebanyak 70 orang saksi dihadirkan untuk memberikan kesaksian. Persidangan ini pun menyita perhatian luas media internasional .

Sebagian besar tuduhan yang dijatuhkan kepada Marius terbukti di persidangan, meskipun vonis resmi secara lengkap belum diumumkan hingga artikel ini diturunkan. Berdasarkan tuntutan jaksa, jika semua tuduhan terbukti, Marius menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun .

Kasus ini tidak hanya mengguncang fondasi monarki Norwegia, tetapi juga menjadi pengingat bahwa hak istimewa sekalipun tidak melindungi seseorang dari jeratan hukum. Seperti disampaikan jaksa Sturla Henriksbø, “Høiby tidak boleh diperlakukan lebih ringan atau lebih berat hanya karena afiliasi keluarganya” .

Tinggalkan komentar