Air Mata Darah di Lau Tepu: Balita Ditinju, Ibu Diikat Semalaman Hanya karena Sebungkus Nasi

Air Mata Darah di Lau Tepu: Balita Ditinju, Ibu Diikat Semalaman Hanya karena Sebungkus Nasi – Langkat – Rumah kayu sederhana di Desa Lau Tepu, Kecamatan Salapian, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang seharusnya menjadi benteng perlindungan bagi seorang balita perempuan, malah berubah menjadi neraka pada Rabu (29/4/2026) dini hari. Hanya karena setitik masalah kecil—perut kosong dan anak yang rewel—seorang ayah tiri berinisial SPS (28) melampiaskan amarahnya dengan cara paling biadab: meninju kepala balita berusia 4 tahun dan mengikat ibu kandungnya sepanjang malam .

Baca Juga: Kontroversi Sanksi Kasus Kekerasan Seksual FH UI: Kemendikti Jelaskan Klasifikasi Tidak Termasuk Berat

Kasus ini mencuat setelah warga sekitar melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian, yang kemudian bergerak cepat mengamankan pelaku dan mengevakuasi korban .


🥊 Kronologi: Akumulasi Amarah di Malam Sepi

Berdasarkan hasil penyelidikan Satreskrim Polres Langkat yang diungkapkan oleh Kasat Reskrim AKP Ghulam Yanuar Lutfi, peristiwa itu bermula dari kemarahan pelaku saat pulang kerja. Dalam kesehariannya, SPS bekerja dan menjadi tulang punggung keluarga.

Sesampainya di rumah sekitar pukul 01.00 WIB, pelaku mendapati kondisi rumah yang memicu emosinya: tidak ada makanan yang tersedia, air minum habis, dan tabung gas LPG kosong . Pelaku kemudian meminta uang kepada istrinya, ES (30), untuk membeli makanan. Namun, pelaku menilai istrinya bercermin muka masam atau “cemberut” saat dimintai uang, yang semakin memupuk rasa kesalnya .

Puncaknya, ketika balita perempuan tersebut rewel dan tidak mau tidur meski sudah larut malam, emosi SPS meledak. “Jadi, akumulasi lah di malam hari itu. Anaknya rewel, disuruh tidur nggak bisa tidur, marah bapaknya ini,” jelas Ghulam menirukan keterangan pelaku .


🚨 Derita Korban: Tinju, Tampar, dan Tali Ayunan

Aksi brutal itu berlangsung tanpa ampun. Pelaku menggunakan tangan kosong untuk meninju kepala dan bagian tubuh balita malang tersebut . Akibatnya, bocah perempuan itu mengalami luka memar di bagian mata, bibir, dan kepala .

Tidak hanya menyasar anak tiri yang tak berdaya, pelaku juga melampiaskan amarahnya kepada istri yang merupakan ibu kandung korban. ES dipukul sebanyak dua kali pada bagian kepala . Yang lebih mengenaskan, setelah memukulnya, pelaku mengikat tangan ES menggunakan tali ayunan mulai pukul 01.00 WIB hingga pukul 08.00 WIB pagi .


🩹 Penanganan dan Pendampingan: Polisi Hadir untuk Korban

Belakangan, aksi biadab ini diketahui oleh tetangga yang melihat kondisi memprihatinkan korban. Warga yang geram pun melaporkan kejadian tersebut hingga viral di media sosial .

Menanggapi laporan itu, Polres Langkat bergerak cepat. Personel Sat Reskrim langsung melakukan penyelidikan dan berhasil mengamankan pelaku SPS untuk diproses secara hukum .

Kapolres Langkat AKBP David Triyo Prasojo menegaskan bahwa penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada proses hukum terhadap pelaku, tetapi juga memastikan pemulihan korban. “Polres Langkat akan terus memberikan pendampingan terhadap korban melalui Satgas Trauma Healing agar kondisi psikologis anak dapat dipulihkan secara bertahap,” ujar David . Setiap bentuk kekerasan terhadap anak harus ditangani secara serius, profesional, dan penuh empati .


⚖️ Bukti Kasih Sayang Tidak Tergantung Darah

Kisah duka dari Lau Tepu ini menjadi pengingat pahit bahwa status “orang tua” tidak otomatis menjamin rasa sayang. Seorang anak balita yang sedang tumbuh seharusnya mendapatkan asupan gizi dan kasih sayang, bukan menjadi sasaran pelampiasan kemarahan akibat kondisi rumah tangga yang tidak harmonis.

Semoga sang balita dan ibunya pulih kembali—baik luka fisik maupun luka hati yang mungkin lebih dalam. Jangan ragu untuk melapor jika mengetahui ada tindak kekerasan di sekitar kita. Layanan Call Center Polri 110 aktif 24 jam secara gratis .

Tinggalkan komentar

Exit mobile version